Dewasa ini, hampir setiap orang
berusaha untuk tampil dengan maksimal. Orang akan berusaha untuk mendapatkan
penampilan yang menurut mereka ideal. Mereka berlomba-lomba untuk menjaga tubuh
tetap sehat dengan berat badan yang seimbang. Bahkan ada yang sampai berniat
untuk melakukan diet. Diet merupakan pola asupan makan dengan mengkonsumsi
makanan yang cara dan sumbernya teratur. Selain itu, diet juga memiliki manfaat
untuk menghindarkan diri dari obesitas atau kegemukan. Oleh karena itu,
kebanyakan orang akan melakukan diet untuk menjaga kesehatan. Hal itu adalah
wajar karena memang kesehatan adalah yang utama. Kebanyakan masyarakat modern
saat ini, lebih sulit menurunkan berat badan ketimbang 18 tahun yang lalu,
bahkan sekalipun dengan tingkat diet dan aktivitas yang sama. Hal inilah yang
menjadi pertanyaan dan yang akan dibahas pada materi ini.
Sebuah penelitian yang diterbitkan
baru-baru ini di jurnal Obesity Research
and Clinical Practice menemukan
bahwa lebih sulit bagi orang dewasa saat ini untuk mempertahankan berat badan
yang sama seperti yang dilakukan 20 hingga 30 tahun yang lalu, bahkan pada
tingkat asupan makanan dan olahraga yang sama. Dengan kata lain, orang-orang
saat ini sekitar 10% lebih berat dari pada orang-orang di tahun 1980-an bahkan
jika mereka mengikuti diet dan rencana olahraga yang sama persis. Seorang
professor ilmu kinesiologi dan kesehatan di Universitas York Toronto yang
bernama Jennifer Kuk mengemukakan bahwa. ada tiga faktor yang mungkin membuat
orang dewasa lebih sulit untuk tetap kurus saat ini. Faktor pertama yaitu banyaknya
bahan kimia yang mungkin memicu penambahan berat badan. Faktor kedua,
peningkatan penggunaan obat resep yang banyak diantaranya telah dikaitkan
dengan penambahan berat badan. Faktor ketiga adalah adanya beberapa jenis
bakteri usus membuat seseorang lebih rentan mengalami kenaikan berat badan. Kuk
juga mengatakan dalam sebuah pernyataan, bahwa mungkin ada perubahan spesifik
lain yang berkontribusi pada peningkatan obesitas di luar diet dan olahraga.
Namun, apa saja perubahan lain itu masih merupakan masalah hipotesis.
Kita dapat menghubungkan perubahan
spesifik lain tersebut dengan menganalisis perubahan yang terjadi pada struktur
dan fungsi sel, materi genetik, sistem organ dan kemungkinan evolusi manusia
modern.
Perubahan Yang Terjadi Pada Struktur Dan Fungsi Sel
Seperti yang telah kita ketahui bahwa
setiap individu memiliki perbedaan DNA. DNA adalah materi biologis yang ada
dalam setiap sel dalam tubuh kita. DNA bersifat diturunkan dan merupakan kode
genetik yang membuat Anda berbeda dari manusia lainnya. Untuk memahami perbedaan itu, kita perlu
mempertimbangkan tidak hanya DNA, tetapi juga produk selulernya. Bidang studi
ini baru, tetapi berkembang pesat. Penekanannya berubah dari urutan DNA menjadi
gen. Tentu saja, tidak setiap perbedaan manusia memiliki penyebab genetik.
Banyak yang bersifat lingkungan, atau merupakan hasil interaksi antara gen dan
lingkungan, selain itu, hasil dari pola makan, atau struktur keluarga, atau
sekolah, atau bahkan sejumlah faktor biologis dan sosial lainnya. Gen sangat
berbeda dalam produktivitasnya, termasuk perbedaan aktivitas di berbagai bagian
tubuh. Selain itu, para ilmuwan telah membandingkan sampel lemak dari manusia
dan primata lainnya dan menemukan bahwa perubahan dalam kemasan DNA
mempengaruhi cara tubuh memproses lemak. Tubuh kita membutuhkan lemak untuk
menyimpan energi dan melindungi organ vital. Lemak juga membantu tubuh menyerap
sejumlah nutrisi dan menghasilkan hormon penting. Kebiasaan makan modern dan kurang olahraga telah
berkontribusi pada “epidemi” obesitas, tetapi penelitian baru menyoroti peran
yang dimainkan evolusi dalam meningkatkan pembentukkan lemak tubuh manusia.
Para ilmuwan menemukan bahwa perubahan pada bagaimana DNA dikemas di dalam sel
lemak mengurangi kemampuan tubuh manusia untuk mengubah lemak “jahat’ menjadi
lemak baik. Hasil penelitiannya sekarang muncul di jurnal Genome Biology and Evolution.
Berkaitan Dengan Materi Genetik
Menurut ahli bedah umum dan bariatrik
di MemorialCare Orange Coast Medical
Center di California, Dr. Mir Ali, mengungkapkan “Genetika memang memainkan
peran penting dalam menentukan berat badan seseorang, tetapi kami tidak ingin
orang berpikir bahwa itulah satu-satunya hal yang menentukan berat badan
seseorang”. Satu studi tentang perubahan genetik keluarga di Amerika Serikat
selama abad ke 20 menemukan seleksi untuk menurunkan tekanan darah dan kadar
kolesterol yang keduanya dapat ditingkatkan secara mematikan oleh pola makan
modern. Namun, sangat mungkin bahwa dengan perlindungan pengobatan modern, akan
ada lebih banyak masalah genetik yang tersimpan untuk generasi mendatang.
Sekarang sudah terbukti bahwa kelebihan berat badan dan obesitas memiliki
komponen genetik yang signifikan, dengan perkiraan kontribusi variasi genetik
terhadap variasi yang diamati dalam fenotipe terkait obesitas (seperti BMI,
massa lemak dan kadar leptin) berkisar antara 30 hingga 70 persen
(Comuzzie et al, 1993,1994,1996).
Saat ini, upaya besar dalam pencarian
gen spesifik yang berkontribusi terhadap kelebihan berat badan dan obesitas
manusia didasarkan pada penggunaan pemindaian genom. Sehingga perkembangan
obesitas kemungkinan besar melibatkan kombinasi lingkungan dan kecenderungan
genetik. Gen memberi instruksi pada tubuh untuk merespon perubahan di
lingkungannya. Hingga saat ini, lebih dari 400 gen berbeda telah terlibat dalam
penyebab kelebihan berat badan atau obesitas, Gen berkontribusi pada penyebab
obesitas dalam banyak hal, dengan mempengaruhi nafsu makan, rasa kenyang,
metabolisme, mengidam makanan, distribusi lemak tubuh dan kecenderungan
menggunakan makan sebagai cara untuk mengatasi stress. Penelitian menunjukkan
bahwa untuk beberapa orang, gen hanya menyumbang 25% dari kecenderungan untuk
kelebihan berat badan, sedangkan untuk orang lain pengaruh genetik setinggi 70%
sampai 80%. Sehingga materi genetik sedikit banyak memberikan kontribusi
terhadap perubahan indeks massa tubuh seseorang dari waktu ke waktu.
Kemungkinan Evolusi Manusia Modern
Menurut para ahli, bahwa setiap
makhluk hidup di muka bumi selalu berevolusi sebagai bentuk adaptasinya
terhadap lingkungan, tak terkecuali manusia. Sejarah evolusi kita tertulis
dalam gen kita. Gen manusia terlihat seperti itu karena semua perubahan genetik
yang mempengaruhi nenek moyang kita (https://www.yourgenome.org/stories/evolution-of-modern-humans).
Evolusi adalah perubahan bertahap pada DNA suatu spesies selama beberapa
generasi. Ini dapat terjadi melalui seleksi alam ketika ciri-ciri tertentu yang
diciptakan oleh mutasi genetik membantu suatu organisme bertahan atau
berkembang biak. Mutasi semacam itu dengan demikian lebih mungkin diturunkan ke
generasi berikutnya, sehingga frekuensinya meningkat dalam suatu populasi.
Dalam melihat studi global DNA kita, kita dapat melihat bukti bahwa seleksi
alam baru-baru ini membuat perubahan dan terus melakukannya.
Semuanya itu dapat kita lihat di era
manusia modern. Studi DNA terbaru (sejak 2007) mengkonfirmasi bahwa sifat
genetik telah berubah atau beradaptasi dengan lingkungan baru selama ini.
Faktanya, kecepatan perubahan DNA, dan juga kecepatan evolusi, telah meningkat
pesat dalam 40 tahun terakhir. Area genom manusia tampaknya masih menjalani
seleksi untuk hal-hal seperti penyakit dan warna kulit. Ciri fisik ditentukan
oleh genetika, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan. Dalam jangka waktu yang
lama, lingkungan akan bertindak atas gen untuk mengembangkan karakteristik
tertentu dalam suatu populasi. Selain
itu, dalam https://theconversation.com/human-evolution-is-stillhappening-possibly-faster-than-ever-105683 memaparkan
bahwa, kita mungkin juga beradaptasi dengan diet yang tidak sehat.
Disamping itu, ukuran tubuh juga
mempengaruhi. Faktor-faktor yang mempengaruhi ukuran tubuh sangatlah kompleks.
Mereka melibatkan interaksi antara genetika, lingkungan dan praktik gaya hidup
seperti pola makan dan teknologi yang mempengaruhi kondisi medis seseorang.
Seperti banyak kondisi medis lainnya, obesitas adalah hasil interaksi antara
faktor lingkungan dan genetik. Penelitian telah mengidentifikasi varian dalam
beberapa gen yang mungkin berkontribusi pada penambahan berat badan dan
distribusi lemak tubuh; meskipun, hanya dalam beberapa kasus gen merupakan
penyebab utama obesitas.
Dalam biologi kita mengenal istilah
Polimorfisme. Polimorfisme yaitu ketika
dua atau beberapa fenotip yang berbeda ada dalam populasi suatu spesies) dalam
berbagai gen yang mengendalikan nafsu makan dan metabolisme mempengaruhi
obesitas dalam kondisi makanan tertentu. Persentase obesitas yang dapat
dikaitkan dengan genetika sangat bervariasi, tergantung pada populasi yang
diperiksa, dari 6% hingga 85%. Pada tahun 2006, lebih dari 41 situs pada genom
manusia telah dikaitkan dengan perkembangan obesitas ketika lingkungan yang
menguntungkan hadir. Keterlibatan faktor genetik dalam perkembangan obesitas
diperkirakan 40-70%. Beberapa dari gen obesitas atau leptogenik ini dapat
mempengaruhi respons individu obesitas terhadap penurunan berat badan atau
pengelolaan berat badan. Dua studi baru menegaskan bahwa pengendalian berat
badan seringkali merupakan hasil dari genetika, bukan kemauan. Di era manusia
modern, keberadaan mesin penjual otomatis dan gerai makanan cepat saji
memastikan akses makanan ke tempat kerja, biasanya makanan dengan kandungan
kalori yang tinggi sebagian besar dalam bentuk lemak atau olahan. Faktor utama
yang berkontribusi terhadap epidemi obesitas dalam beberapa tahun terakhir
kemungkinan besar adalah peningkatan proporsi makanan terutama karena kandungan
lemak yang tinggi daripada yang dikonsumsi dirumah (Young dan Nestle,
2003). Oleh karena itu, seiring kemajuan
zaman, manusia cenderung lebih memilih menggunakan teknologi di dalam hampir
semua aspek yang memberikan efek peningkatan berat badan seseorang.
Ringkasan
Dapat kita simpulkan bahwa orang dewasa modern memiliki indeks massa
tubuh (BMI) yang lebih tinggi sekalipun dengan tingkat diet dan aktivitas yang
sama dikarenakan oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal tersebut
antara lain yaitu perubahan struktur dan fungsi sel setiap orang dari waktu ke
waktu mengalami perubahan yang signifikan. Selain itu juga disebabkan oleh
materi genetik yang berbeda pada setiap orang setelah terjadinya perkawinan.
Ditambah lagi, manusia modern yang berevolusi sebagai bentuk adaptasinya dengan
lingkungan. Untuk faktor eksternal yang mempengaruhinya, antara lain, jumlah
kalori yang dikonsumsi oleh manusia modern lebih banyak dan kompleks. Selain
itu, tingkat stress yang dialami manusia modern dalam pekerjaan juga dapat
meningkatkan keinginan seseorang untuk mengkonsumsi makanan yang berlebihan
sehingga metabolisme dalam tubuh tidak teratur dan menyebabkan diet yang kurang
sehat. Faktor lingkungan juga memberikan kontribusi terhadap kebiasaan manusia
modern dimana pola makan yang tidak teratur menjadi kebiasaan
dikesehariannya. Dan faktor teknologi
juga memainkan peran pada manusia modern untuk melakukan sedikit aktivitas yang
dapat membakar kalori sehingga terjadi penumpukan lemak yang mempengaruhi berat
badan. Untuk itu, diharapkan, setiap harinya kita membatasi jumlah kalori yang
dikonsumsi selain itu tetaplah melakukan aktivitas olah raga yang teratur untuk
melancarkan sistem metabolisme dalam tubuh. Dan tetap semangat…